• PRODUKSI JAGUNG NAIK 400.000 TON
JEMBER - Pembentukan Kelompok Tani (Poktan) sebagai wadah para petani tidaklah hanya bertujuan untuk membagi-bagikan pupuk saja, tapi lebih dari itu Poktan harus mampu menumbuhkan kreatifitas untuk meningkatkan produktifitas pertanian anggotanya.
Demikian ditegaskan Wakil Bupati Jember, Kusen Andalas, Sip, saat acara panen Jagung kemarin.
Menurutnya, Poktan harus lebih berani melakukan terobosan positif terkait pengembangan, pemasaran, dan kreatifitas pertanian. Tidak saja di sisi peningkatan produktifitas, tapi juga soal pemanfaatan Teknologi Pertanian, Cara tanam, Pola Pemupukan berimbang, dan teknologi Pasca Panen.
Kreasi dan inovasi dari kalangan petani sangat dibutuhkan seiring semakin bertambahnya jumlah penduduk yang diikuti kian meningkatnya kebutuhan pangan.
“Petani harus mulai berpikir pemanfaatan Teknologi Pertanian, baik soal pengolohan tanah, cara tanam, pemeliharaan, pengobatan, sehingga bisa meningkatkan produksi pertaniannya,” ujar Wabup Kusen Andalas, di acara Pioneer Ekspo 09, di Desa Lojejer, Kecamatan Ambulu Kamis (15/7).
Dikatakan, bahwa sebuah persoalan tidak terkecuali di bidang pertanian, akan bisa lebih maju kalau dibarengi perencanaan yang baik. Selain itu juga harus ada sistem yang baku dan bisa diandalkan, sehingga setiap kegiatan yang dijalankan bisa terarah.
“Sistem harus dibangun, agar semua persoalan menyangkut pertanian bisa berjalan dengan baik. Kalau sistemnya baik, Insya Allah, semuanya akan berjalan baik,” tandas Wabup Kusen Andalas.
Di sisi lain, Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Hortikultura, Kabupaten Jember, Ir Hari Wijayadi, memaparkan bahwa persoalan komoditi Jagung di Jember, dari tahun ke tahun berkutat pada masalah ketidakpastian harga.
Ketidakstabilan harga Jagung di pasaran, kata dia, mengakibatkan petani banyak yang mengeluh. Soal produktifitas Jagung sejak 4 tahun terakhir sempat mengalami lonjakan.
Hal itu bukan dipicu semakin cerdasnya petani dalam mengolah tanaman Jagung, tapi naiknya produksi Jagung dari 300.000 ton tahun 2004-2005 menjadi 400.000 ton tahun 2009 ternyata lebih dipicu oleh semakin luasnya lahan.
Bertambah luasnya lahan Jagung di tahun 2008-2009 itu, karena petani tembakau beralih dari tembakau ke Jagung.
“Produksi naik ternyata arealnya juga naik. Ini terjadi tahun 2008. Jadi bukan karena produktifitasnya yang naik,” tegasnya.
Di lain sisi, Direktur Pemasaran, Pioneer, menegaskan bahwa pemilihan Jember sebagai daerah pemasaran hasil produksinya, karena daerah ini dinilai cukup potensial. Tidak hanya Pioneer yang mengembangkan dan memasarkan hasil produksi juga ada beberapa Perusahaan Benih yang melakukan hal yang sama di Jember.
“”Jember ini tidak hanya menjadi lumbung pangan, tapi juga menjadi sentra produksi jagung,” kata Supandi Direktur Pemasaran Pineer, dalam acara Pioneer Ekspo yang diikuti Poktan Kabupaten tetangga : Probolinggo, Lumajang, Jember, Bondowoso, Situbondo dan Banyuwangi. kim
Rabu, 2009 Juli 15
KELOMPOK TANI HARUS LEBIH KREATIF
IYAN JAYA GARMENT DAPAT BERKAH BBJ 2009
JEMBER – Dampak, dari gebyar Bulan Berkunjung ke Jember (BBJ) 2009 yang berjalan separuh waktu ini sangat dirasakan masyarakat. Terutama para perajin sablon kaos, pemilik garment dan konveksi di Kabupaten Jember. Mereka kebanjiran order pembuatan kaos BBJ, baik dari instansi pemerintah dan swasta.
Seperti yang dialami “Iyan Jaya Garment” di Jl Manggar XII / 32A Gebang Jember. “Kami ingin berpartisipasi mewarnai event BBJ 2009. Banyak order pembuatan kaos, topi dan umbul-umbul kita beri harga murah, tapi berkualitas, asal bisa mempekerjakan banyak orang,” ujar Farid pemilik “Iyan Jaya Garment” Jember.
Diakuinya, keberadaan BBJ baginya tidak hanya merupakan berkah, tapi juga keberuntungan. Betapa tidak. Karena saat BBJ dimulai dia mendapat order ribuan potong kaos.
“Meski harganya berkisar Rp 10-40 ribu, tapi sangat bisa membantu warga sekitar sini dalam mengembangkan usahanya,” ujarnya.
Apalagi dalam BBJ 2009 berbeda dari tahun 2008. Usaha Garment yang ia tekuni sekarang ini bisa memberdayakan warga sekitar dan menyerap pekerja sebanyak 24 orang.
“Dengan BBJ dua kali ini kami bisa memperkerjakan pemuda sekitar usaha kami, ada sekitar 5-10 pekerja di luar pekerja tetap sekarang ini, ” paparnya.
Hanya saja sebagai pengusaha Garment dia mengingatkan kepada pelanggan di pemerintahan agar tidak perlu mencari Garment di luar Jember karena di Jember sudah cukup banyak dan sanggup mengerjakan ribuan potong kendati harus dikerjakan sesuai pesanan dan kualitasnya juga bisa bersaing.
Sebagai pengusaha Garment, memproduksi kaos, jaket, seragam, traning, jaket, topi, umbul-umbul sudah lama dia geluti.
“Apalagi di peringatan HUT RI ke 64 yang dikemas BBJ ini, kami sangat bersyukur sekali, karena bisa mengembangkan usaha semisal pin, tas souvenir dan sebagainya, ” ujarnya.
Kendati pangsa pasarnya telah tembus Bali, Surabaya, Jombang, Lumajang dan Wilayah Besuki. Dengan BBJ usahanya dapat memproduksi 2.000 potong sehari. Ada peningkatan dibanding tahun 2008, hanya 800-1000 per hari.
“Itupun dari para pelanggan saja, ” tambahnya.
Mengamati BBJ di tahun ketiga 2009 ini, sebagai pengusaha kecil sangat berharap tetap dilanjutkan. “BBJ ini sangat banyak manfaatnya bagi kami dan harus menjadi agenda tetap tahunan untuk rakyat Jember, ” tegasnya.
Senada dibeber Mukti - pekerja Garment “Iyan Jaya” – ini merasakan BBJ banyak manfaatnya. “Saya dapat pekerjaan menyablon dan menjahit sekarang bisa dilembur sampai dini hari, sehingga gajinya juga bisa bertambah, ” bebernya. kim
RT-RW DIJANJIKAN DIBERI INSENTIF
JEMBER - Perkembangan pembangunan oleh Bupati Jember MZA Djalal, sudah banyak diraskan.
Hal itu terungkap dari pengakuan masyarakat Kaliwates saat ikut acara bedah potensi, Kamis (15/7) kemarin.
Kendati ujung ujungnya mereka minta bantuan. Tapi hal itu sudah mencerminkan perilaku masyarakat saat bertemu Bupatinya.
“Bak anak kepada bapaknya”.
Bupati Jember, MZA Djalal, akhirnya dengan sabar menanggapi seluruh permintaan masyarakatnya itu.
Bupati juga sempat mengingatkan kepada seluruh masyarakat Jember agar saling menghormati dan menghargai apa yang sudah dilakukan para pendiri bangsa melalui momentum hari Kemerdekaan Proklamasi nantinya dengan hal-hal positif yang bisa membawa masyarakat ke arah adil dan makmur.
Bupati Djalal juga berharap program pemerintah hendaknya selalu didukung semua pihak. Karena semua itu hanya untuk kepentingan kesejahteraan masyarakt sendiri.
Terutama program BBJ sebagai sarana yang dirumuskan Pemerintah semata untuk mengangkat nama Jember di kancah Nasional dan Internasional demi kemakmuran bersama masyarakat Jember.
Melihat hal itu, Bekti, warga Tegal Besar, meminta kepada Bupati Jember agar perangkat di bawah kelurahan yakni RT, RW diberi insentif guna memberikan tambahan penghasilan (kesejahteraan) bagi RT-RW dari anggaran Kelurahan.
Selain agar pelaksanaan administrasi dan kelancaran dalam memberikan pelayanan masyarakat itu tidak tersendat-sendat. Kata Bekti, kendala terbesar dalam pengurusan-pengurusan surat banyak terjadi di lingkup RT-RW.
Tapi, RT-RW tidak ada income. Karena itu insentif bagi RT-RW agar benar-benar diperhatikan sebagai pelayan masyarakat di tingkat terbawah.
Dengan lantang, Bupati Djalal menjawab permintaan Bekti dengan tegas. Bahwa pemberian insentif RT-RW itu diserahkan ke Kelurahan masing – masing.
Semua itu, bisa dilakukan dengan melihat kemampuan anggaran Kelurahan setempat. Dan terpenting adalah sesuai aturan. Wacana ini juga serupa dengan acara Bedah Potensi di Kecamatan Sumberjambe.
Bupati Djalal mengijinkan jika Anggaran Desa diambil untuk memberikan tambahan kesejahteraan bagi para kader PAUD saat itu.
Melihat itu, selayaknya kesejahteraan para kader-kader, perangkat, dan masyarakat yang mau mengabdikan diri untuk kepentingan masyarakat agar lebih diperhatikan. Sehingga seluruh kebutuhan masyarakat selalu bisa layani dengan baik.kim
Selasa, 2009 Juli 14
MZA DJALAL JANJIKAN TANAH BENGKOK BAGI PPL
JEMBER - Lagi lagi Bupati Jember, MZA Djalal, menarik simpati karyawan Pemkab Jember. Kali ini saat dialog temu wicara dengan petani di UPTD Bangsalsari, MZA Djalal menjanjikan kepada Petugas Pertanian Lapangan (PPL) tanah bengkok sebagai jaminan kesejahteraan ke depan.
Hal itu terungkap saat PPL ini mengadukan keluh kesahnya terkait kesejahteraan PPL selama ini. Dengan tanah bengkok itu, lahan bisa disewakan dan dikelola PPL sesuai kebutuhan.
“Mereka selama menjadi tenaga kontrak diberi lahan untuk dikerjakan, sekaligus menjadi contoh petani lain sehingga hasilnya dapat dinikmati untuk mencukup kebutuhannya sehari-hari, “ ujarnya.
Selain memperingati Hari Krida Pertanian (HKP) ke-37 di Kabupaten Jember, jajaran Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura Kabupaten Jember juga gelar Tehnologi Pertanian di UPTD Kecamatan Bangsalsari, Senin (13/7).
Acara dibarengkan temu wicara petani dengna Bupati Jember MZA Djalal terkait berbagai Teknologi Pertanian yang sedang dikembangkan.Para petani dan penyuluh se Jember ini sengaja dihadirkan di temu wicara ini.
Sementara Kepala Dinas Pertanian Propinsi Jawa Timur meminta kepada pengusaha Jember untuk segera berinvestasi di bidang pertanian, sebab bidang pertanian akan membawa harapan besar bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Tidak ada rugi, kalau pengusaha berusaha di bidang pertanian ini, “ajaknya.
Berdasar data dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, bahwa Kabupaten Jember sangat potensial untuk dikembangkan berbagai jenis tanaman mulai dari tanaman padi, palawija dan holtikultura.
Selain itu Jember tergolong mempunyai luas lahan yang sangat besar dan subur untuk ditanami berbagai varietas pertanian yang ada. “Segala macam jenis tanaman dengan suburnya tumbuh diareal lahan milik petani, “ujarnya.
Hamid, petani asal Kecamatan Ambulu berharap pemerintah segera mempermudah dan membantu petani menyediakan bibit tanaman yang dibutuhkan, selagi sekarang musim tanam.
“Karena sekarang musim palawija, maka ketersediaan bibit palawija seperti kedelai dan jagung harus mudah didapat dipasaran, “pintanya.
Sedang bibit bantuan dari pemerintah selama ini sering tak sesuai permintaan petani yang diajukan melalui RDKK, sehingga banyak petani mengeluh bibit dari pemerintah sering salah.
“Seandainya memang bibit yang diminta petani tersebut dinilai terlalu mahal, maka petani sanggup untuk menambah selisih harga bibit kedelai itu. “ujar Hamid.
Bupati Jember MZA Djalal mengatakan dari tahun ke tahun peningkatan produksi pertanian di wilayah ini sangat menggembirakan, karena selain adanya Teknologi Pertanian yang canggih dapat meningkatkan hasil produksi gabah petani.
“Sebab kalau kita lihat dari tahun 2004 produksi padi petani Jember hanya 720 ribu ton/ha, maka tahun 2009 ini mengalami peningkatan sebesar 820 ribu ton/ha atau naik sebesar 100 ribu ton/ha, “jelas Djalal.
MZA Djalal mengatakan tahu persis letak geografis Jember sebagai daerah yang sangat subur. “Coba lihat di sekitar tempat acara ini, semua tanaman pertanian mulai dari tomat, mentimun, kacang panjang, cabe, pare dan kubis tumbuh dengan suburnya dan sangat menjanjikan, “ tegas Djalal.
Menanggapi keluhan petani asal Kecamatan Ambulu soal bibit dari pemerintah, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura Jember, Ir. Hari Widjajadi mengatakan bantuan benih dari pemerintah tidak bisa ditentukan sendiri.
“Tapi mudah-mudahan tahun depan, bantuan benih akan sesuai dengan Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) dan kemauan petani ,” ujarnya. kim
BUPATI DJALAL TANAM PERDANA KEDELE
JEMBER - Negara Indonesia adalah negara agraris. Kabupaten Jember sebagai daerah lumbung padi Jawa Timur di peringatan hari Krida Tani, Senin, 13 Juli 2009 di Kecamatan Bangsalsari, Bupati Jember, MZA Djalal dan jajaran SKPD, Camat, dan UPTD Pertanian menanam perdana kedele sebagai tanda bahwa Jember tak hanya unggul dalam produksi padi, tapi juga kedelai sebagai komoditi bersaing lainnya.
Bupati Djalal juga meninjau langsung lahan percontohan (Demo Plot) UPTD Pertanian Kecamatan Bangsalsari, yang menyediakan berbagai varietas tanaman sayur-sayuran sehat menggunakan pupuk oganik : tomat, kacang panjang, pare, dan kubis.
Segala tanaman percontohan ini merupakan tanaman organik yang keseluruhannya dipupuk memakai pupuk olahan limbah makanan dan kotoran ternak.
Bupati Djalal mengatakan, ada revolusi besar di bidang pertanian dengan menggunakan pupuk-pupuk organik. Ini sebagai dasar bahwa masyarakat dewasa ini kian sadar arti penting kesehatan tanaman.
Selain itu, sebagai Kabupaten dengan pendapatan masyarakatnya dari hasil pertanian diharap tidak bergantung kepada komoditi padi saja, tapi harus ada diversifikasi tanaman.
Semisal, ketela pohon, jagung, kedele, dan sayur-sayuran lainnya. Jika ini bisa dilakukan secara baik dan benar, maka tidak ada masyarakat yang kelaparan, apalagi busung lapar. Semua ini, disebabkan perubahan dari pola hidup masyarakat itu sendiri.
Djalal mengungkapkan apresiasi yang tinggi kepada para kelompok tani, Gapoktan, dan KTNA yang telah mampu membina petani, untuk hasil pertanian yang sehat.
Termasuk penghargaan kepada PPL yang telaten mendampingi petani dalam segala hal. Karena disadari banyak kendala dihadapi petani, tapi semua itu bisa diselesaikan dengan rasa tanggung jawab dan kerjasama.
Kadisperta Jember, Ir. Hari Widjajadi, mengatakan penanaman kedele perdana ini hendaknya dilanjutkan sebagai tindakan nyata petani melalui Gapoktan, karena kedela memiliki nilai ekonomis tinggi selain untuk konsumsi masyarakat.
Semua itu dilakukan semata untuk meningkatkan kesejahteraan petani itu sendiri, pemerintah hanya menfasilitasi saja.
“Jika produksi pertanian Jember berhasil, baik produksi padi atau tanaman non padi, ada keberhasilan petani itu sendiri,“ tegasnya. kim
Minggu, 2009 Juli 12
MZA DJALAL JANJI BIKIN DESA BUDIDAYA PERKUTUT
.JPG)
JEMBER - Setelah tahun 2008, Jember sebagai tuan rumah ekshibisi koong perkutut tingkat regional tahun ini di rangkaian BBJ 2009. Jember kembali didaulat sebagai tuan rumah lomba koong perkutut tingkat nasional.
Tak hanya itu, didaulatnya Jember sebagai tuan rumah Koong tingkat nasional ini Kabupaten Jember juga mendapat penghargaan langsung dari Ketua Umum Persatuan Pelestarian Perkutut se Indonesia (P3SI) sebagai penyelenggara lomba Koong Perkutut tingkat nasional terbaik.
Penghargaan ini diserahkan oleh Ketua Umum P3SI, Mayjen Purn Zainuri Hasyim. Penghargaan ini diberikan Kepada Bupati Jember, MZA Djalal, karena satu-satunya Kabupaten yang menyelenggarakan lomba Koong Perkutut tingkat nasional dengan 19 blok dimana 1 blok perkutut biasanya diikuti 84 peserta lomba kali ini berdasar penilaian panitia dari 19 blok dipenuhi oleh para peserta lomba.
Demikian disampaikan Ketum P3SI, Mayjen. Purn. Zainuri Hasyim, bahwa P3Si selaku penyelenggara tahun ini Kabupaten Jember merupakan penyelenggara terspektakuler, dan terbesar.
Karena, dalam sejarah penyelenggaraan lomba tingkat nasional dimanapun yang terbesar hanya 15 blok.
“Ini benar-benar luar biasa. Sebagai penyelenggara koong perkutut pertama tebesar di Indonesia,” tegasnya.
Disampaikan pula bahwa Jember telah memecahkan rekor penyelenggaraan lomba, karena selama 52 tahun P3SI berdiri, baru kali pertama Jember menggelar lomba dengan 19 blok berisi penuh seluruh peserta.
Mantan Pangdam Siliwangi ini menegaskan bahwa Jember bisa dijadikan pusat Perkutut di Indonesia, sehingga pelestarian burung perkutut kian semakin langka tetap terjaga.
Bahkan, Bupati Jember sempat akan mencetuskan sebuah desa yang akan menjadi pusat budidaya perkutut di Jawa timur bagian timur. Jika ini akan benar-benar diwujudkan P3SI akan siap mendukung dan siap memberi bibit perkutut kelas 2 secara gratis.
Meski kelas 2, perkutut tetap akan memberi nilai ekonomis yang sangat tinggi, selain perkutut merupakan hiburan tersendiri sebagai penghilang suntuk.
Ketua Koong Perkutut Jember, HM Hasi Madani, mengungkapkan bahwa dengan lomba koong perkutut tingkat nasional ini Jember mendapat penghargaan dari P3SI dan berdampak bagi kesejahteraan rakyat.
Ke depan budidaya perkutut sebagai langka pelestarian satwa dan nilai ekonomis tinggi bisa dilakukan di Jember. Penghargaan ini merupakan upaya menggembirakan dari semua pihak.
Terutama bagi panitia BBJ dalam rangka memperkenalkan Jember ke kancah nasional lewat lomba koong perkutut sehingga nama Jember banyak dikenal oleh para pecinta perkutut.
Sehingga tujuan BBJ sendiri sebagai 3 dimensi bisa segera terwujud, apalagi Bupati Djalal berkeinginan membuat desa perkutut sebagai desa pusat budidaya perkutut. kim
Jumat, 2009 Juli 10
DAPAT PERAK BELUM PUAS
JEMBER - Kejuaraan Daerah Catur yang digelar di Kota Bondowoso, bagi gadis Resti Aprilia (12) tak membuatnya puas mengejar prestasi bagi keluarga dan daerahnya.
Betapa tidak. Bagi gadis kecil kelas VI SD Jember Kidul IV ini harus memberanikan diri bertanding dengan teman seniornya di Open Turnamen Catur Klasik di BBJ 2009.
“Selain ikut klasiknya saya jug ikut simultan dan lawannya Bapak Edy Tanjung dari Malang,” bebernya.
Dalam pertandingan catur klasiknya setelah di babak ke -8, bagi gadis yang masih memiliki 10 piala dan 5 medali dari berbagai turnamen dan kejuaraan catur ini merasa cukup bangga.
“Karena di babak 8 sempat mengalahkan pemain senior dari Surabaya,” tegasnya.
Kendati tidak memiliki target di pertandingn catur tapi dia merasa mendapat pengalaman.
“Pemain senior dan master bisa membuat kita pengalaman. Dan ternyata mainnya sangat melelahkan karena harus bertanding dari pagi, siang hingga malam selama 3 hari,” tegasnya.
Di pertandingan catur klasik 2009 dia sempat memiliki nilai 4 dari 50 lebih peserta dari berbagai daerah.
“Saya sempat menang 4 kali dengan 4 point. Itupun saya mengalahkan pemain senior,” ujarnya.
Prestasi Reti dia yakini tak berhenti sampai di sini saja. Sebelum bertanding di catur BBJ dia pernah meraih medali perak.
“Di Kejurda Bondowoso di kelas E dapat mendali perak. Dan lawan saya banyak masternya,” ujarnya.
Bagi gadis yang memiliki hoby catur ini akan tidak merasa puas atas prestasi yang sudah diraih. “Di Kejuda saya pernah meraih peringkat pertama,” tegasnya.
Dengan tipe permainan posisional, Resti, bisa banyak mengharumkan nama Jember. “Pernah ikut turnamen di Jakarta 2008 masuk 11 besar dari 100 pencatur berbagai daerah,” ujarnya.
Di diri Resti tak terlalu muluk-muluk sejak menggeluti dunia catur sejak tahun 2007. “Saya ini seperti Ranu bisa ketemu Bupati, apalagi dengan catur Ranu bisa ke Batam,” ujarnya.
Gadis kecil ini, mengaku didukung keluarga karena berprinsip membawa nama Jember lewat catur.
“Saya ingin tetap di Jember dengan master yang saya sandang meski diiming-imingi saya tetap ingin bawa nama Jember,” tegasnya.
Keyakinan Resti ingin meraih master bukan isapan jempol. Pengalaman dilalui sejak Tahun 2007 meraih juara III dan Kejurda 2008 juara III. “Semoga ke depan lebih baik lagi,” ujarnya. kim
BBJ JADI TOLOK UKUR NASIONAL
JEMBER - Berawal dari keberhasilan perhelatan Koong BBJ 2008, kini BBJ 2009 dengan pegelaran Koong lagi membuahkan hasil.
Karena per tanggal 10 Juli 2009 Jember jadi tolok ukur nasional. Semua peserta dan juri dari seluruh Indonesia yang tergabung dalam P3SI (Persatuan Pelesatarian Perkutut Seluruh Indonesia) didiklat selama 3 hari di GOR Kaliwates.
Alasannya karena Jember berhasil melaksanakan Koong BBJ 2008 sukses. Dan yang terpenting kepedulian Bupati Jember MZA Djalal dalam Koong sangat tinggi.
“Akhirnya jadi pertimbangan utama pengurus, karena Pak Djalal selaku Bupati Jember perduli terhadap upaya pelestarian perkutut di Indonesia lewat lomba ini,” beber Surahman, Sekretaris P3SI Korwil Jatim.
Terlebih di pelaksanaan Koong BBJ 2009 ini mendapat dukungan penuh Bupati Jember ketika tahun kemarin ditempatkan di Alun- alun Jember.
“Padahal di Alun alun, sebenarnya sangat sulit dijadikan tempat penyelenggaraan Koong BBJ tapi di Jember memperbolehkan dan sekarang ditempatkan di belakang GOR Kaliwates,” tegasnya.
Pertimbangan lain bagi pengurus P3SI Pusat meletakkan pelatihan juri se Indonesia di Jember karena fasilitas yang diberikan kepada peserta juri sangat baik.
“Kalau di Surabaya, Cilodong pernah dilakukan pelatihan juri memakan biaya tinggi tapi di Jember ada fasilitas tempat penginapan dan tempat pelatihan ditambah biaya makan hanya Rp 200 ribu, murah dan enak,” ujarnya.
Dalam pelatihan di Jember tidak saja peserta juri lomba perkutut mendapat materi tapi juga praktek. “Dari peserta sebanyak 70 orang akan dapat pratek sebagai juri di lomba Koong BBJ kali ini,” tegasnya.
Kata Surahman, pelatihan selama 3 hari ini nantinya seluruh peserta akan mendapat materi terkait penjurian umum dan menejemen kepemimpinan, hingga psykologi massa.
“Bagaimana seorang juri harus memahami palayanan publik, memahami oraganisasi dan berani memutuskan hasil dalam penjurianya,” tegasnya.
Menurut Penyelenggara Diklat, sekaligus Panitia Koong BBJ 2009, Hazi Madani, bahwa peserta tidak saja datang dari Jember sebagai penjuri. Tapi peserta banyak dari luar Jawa, semisal Balikpapan, Makasar, Kalsel, Banjarmasin, Bandung, Bali dan sekitar Jember (Bondowoso, Banyuwangi, dan Lumajang.
Sebagai penghargaan, P3SI Pusat di akhir kegiatan Koong BBJ nantinya (12/7) direncanakan akan memberi trophy berikut burung perkutut kepada Bupati Jember.
“Hal itu sebagai wujud kepedulian Bupati melestarikan Perkutut di Bumi Indonesia,” tegasnya.
Soal persiapan Koong BBJ 2009, Hasi menjelaskan akan dibuat spektakuler. Di arena akan dibuat 19 blok sesuai standart nasional. kim

